Kenali Gejala Paru-paru Basah dan Pengobatan yang Dapat Dilakukan

Gejala paru-paru basah seringkali mirip dengan gejala flu sehingga banyak orang yang luput dari kewaspadaan. Maka penting untuk mengenal gejalanya lebih dalam.

Gejala paru-paru basah

Paru-paru basah atau pneumonia adalah infeksi yang mengakibatkan peradangan pada kantung udara di satu atau kedua paru-paru. Penyakit infeksi ini merupakan salah satu penyumbang kematian terbanyak di sejumlah negara, terutama pada kelompok balita.

Disebut dengan paru-paru basah karena infeksi ini dapat menyebabkan kantung udara kecil di dalam paru-paru (alveoli) dipenuhi dengan cairan atau bahkan nanah. Penyebabnya sendiri lebih sering berasal dari infeksi bakteri. Dan dalam sejumlah kasus lainnya disebabkan oleh virus, jamur hingga organisme mirip bakteri yang disebut dengan Mycoplasma pneumoniae.

Tanda-tanda atau gejala paru-paru basah bervariasi antar individu dan berkisar dari ringan hingga berat. Ini semua tergantung pada sejumlah faktor seperti jenis kuman penyebab infeksi, usia hingga kondisi kesehatan keseluruhan dari penderitanya.

Berikut beberapa gejala paru-paru basah yang umum terjadi

Gejala paru-paru basah

1. Batuk

Paru-paru basah yang disebabkan oleh bakteri biasanya akan ditandai dengan gejala batuk persisten disertai dengan adanya dahak yang berwarna kehijauan, kuning atau bahkan hingga menyerupai darah. Sementara bila disebabkan oleh virus, penderitanya cenderung mengalami batuk kering atau hanya disertai dengan sedikit dahak.

2. Demam dan Menggigil

Selain batuk, gejala paru-paru basah lainnya ditandai dengan demam tinggi hingga di atas 38,5°C – khususnya pada anak-anak.  Bahkan sering kali disertai pula dengan keringat dingin dan badan menggigil yang menandai adanya pertumbuhan bakteri dalam aliran darah.

3. Nyeri Dada

Peradangan yang terjadi pada paru-paru dapat berimbas pada timbulnya rasa nyeri di dada. Rasa nyeri ini dikenal sebagai nyeri pleuritik, yakni nyeri tajam yang akan semakin memburuk saat menarik napas dalam-dalam atau saat batuk. Pola napas pun menjadi lebih cepat, dangkal dan terkadang berbunyi ‘ngik-ngik’ (mengi).

4. Kebingungan dan Warna Kulit Membiru

Saat sistem kekebalan tubuh sudah semakin lemah dan tak mampu lagi melawan infeksi yang ada, maka akan berujung pada komplikasi berbahaya yang disebut dengan sepsis. Dalam kondisi seperti ini, produksi urine dan tekanan darah akan turun secara drastis.

Selain itu, penderitanya – terutama orang tua, juga akan mengalami delirium atau kebingungan yang parah serta sianosis atau timbulnya warna kebiru-biruan pada kulit dan selaput lendir sebagai pertanda dari minimnya kadar oksigen dalam darah.

5. Gejala Tidak Spesifik

Seperti halnya orang dewasa, bayi maupun anak-anak yang menderita paru-paru basah mungkin juga mengalami demam tinggi, menggigil dan kesulitan bernapas. Namun perhatikan pula beberapa gejala lain yang kurang spesifik dan bisa saja terjadi.

Beberapa diantaranya seperti kehilangan nafsu makan, mengalami dehidrasi, menjadi lebih rewel dan sering menangis, nampak sangat lemah, mual, muntah atau diare, kulit pucat dan sekujur tubuh terasa sakit.

Diagnosis dan Pengobatan Paru-Paru Basah

Diagnosis paru-paru basah diawali dengan wawancara medis dan pemeriksaan fisik secara langsung yakni dengan menggunakan stetoskop untuk mengetahui kondisi paru-paru. Jika dicurigai mengalami paru-paru basah, maka untuk memastikannya diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang, misal seperti:

  • Tes darah.
  • Foto rontgen dada.
  • Oksimetri nadi.
  • Tes darah.

Untuk pasien yang berusia lebih dari 65 tahun atau memiliki gejala maupun kondisi kesehatan yang serius, maka kemungkinan dibutuhkan pemeriksaan tambahan lainnya, yakni dengan CT scan atau pemeriksaan kultur cairan pleura untuk mendapatkan gambar paru-paru yang lebih detail sekaligus menentukan jenis infeksinya.

Pengobatan paru-paru basah sendiri dilakukan berdasarkan pada jenis infeksi penyebab, tingkat keparahan, usia dan kondisi kesehatan penderita. Namun umumnya mencakup pemberian antibiotik (untuk mengobati pneumonia bakteri), obat batuk dan obat penurun demam atau pereda nyeri seperti aspirin, ibuprofen atau paracetamol.

Di samping itu, pasien juga diharuskan untuk melakukan beberapa perubahan gaya hidup yakni dengan banyak beristirahat, minum banyak cairan, tidak melakukan kegiatan yang berlebihan serta mengonsumsi obat yang telah diresepkan dokter secara teratur.

Untuk pasien dengan gejala lebih serius misal telah mengalami komplikasi sepsis seperti mengalami kebingungan yang parah dan penurunan fungsi ginjal, maka dibutuhkan perawatan intensif di rumah sakit disertai dengan pemasangan alat bantu pernapasan atau ventilator.

SUMBER
#