Memahami Lebih Dalam Seputar Disleksia pada Anak

Ayah Bunda, mari pahami lebih dalam seputar disleksia pada anak. Mulai dari gejala hingga penanganan yang tepat

Disleksia pada anak

Belakangan ini, disleksia menjadi topik hangat yang kerap diperbincangkan. Terlebih lagi saat anak seorang publik figur yang menderita kondisi ini nyatanya mampu membuktikan diri dengan menjadi lulusan terbaik di tempatnya bersekolah. Sebenarnya apa itu disleksia? Bagaimana cara mengenali anak disleksia? Dan pengobatan apa yang dapat dilakukan?

Apa itu disleksia dan apa penyebabnya?

Disleksia (dyslexia) adalah gangguan belajar yang menyebabkan seorang anak mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis yang diajarkan melalui metode konvensional. Kondisi ini dapat membuat seorang anak kehilangan rasa percaya diri lantaran kerap di cap bodoh, meski kenyataannya tidaklah demikian.

Faktanya, disleksia tak akan memengaruhi tingkat kecerdasan seorang anak. Bahkan banyak diantaranya yang justru memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Beberapa contoh kecilnya seperti Leonardo da Vinci, Muhammad Ali, John Lennon hingga Albert Einstein yang hidup dengan disleksia namun di kenang sebagai legenda berkat kesuksesan dan prestasi yang ditorehkannya.

Hingga saat ini, para ahli belum dapat menemukan penyebab pasti yang mendasari kondisi ini. Namun kuat dugaan, disleksia terkait dengan kelainan gen yang memengaruhi bagian otak yang berperan dalam proses bahasa dan kemampuan membaca. Pemindaian gambar pada orang dengan disleksia menunjukkan bahwa area otak yang seharusnya aktif ketika seseorang membaca justru tidak bekerja dengan baik.

Terdapat sejumlah faktor risiko yang memicu seorang anak mengalami disleksia, diantaranya yakni:

  • Riwayat keluarga dengan disleksia atau ketidakmampuan belajar lainnya.
  • Kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah.
  • Paparan selama kehamilan, seperti nikotin, obat-obatan, alkohol atau infeksi yang dapat mengubah perkembangan otak janin.

Gejala disleksia pada anak yang perlu dikenali

Ada beberapa petunjuk awal yang dapat mengindikasikan seorang anak mengalami disleksia. Sering bertambahnya usia, gejala tersebut akan semakin mudah dikenali, baik oleh orang tua ataupun guru di sekolah. Berikut beberapa gejalanya:

Gejala yang dapat dikenali saat sebelum sekolah:

  • Mengalami keterlambatan bicara.
  • Lamban dalam mempelajari kata-kata baru.
  • Kesulitan mengingat atau menamai huruf, angka dan warna.
  • Kesulitan belajar sajak.
  • Kesulitan mengucapkan kata dengan benar misal gajah menjadi gagah.
  • Sering menulis terbalik.
  • Kesulitan dalam membedakan huruf tertentu, seperti ‘b’ jadi ‘d’.

Gejala yang dapat dikenali saat usia sekolah:

  • Kemampuan membaca yang jauh tertinggal dibanding anak seusianya.
  • Kesulitan memproses dan memahami apa yang didengar.
  • Kesulitan dalam merangkai kata dalam menjawab sebuah pertanyaan.
  • Kesulitan dalam mengingat urutan.
  • Kesulitan dalam mengeja.
  • Ketidakmampuan dalam mengucapkan sebuah kata yang masih asing.
  • Kesulitan melihat maupun mendengar persamaan juga perbedaan dalam huruf dan kata-kata.
  • Lamban dalam menyelesaikan tugas yang melibatkan baca tulis.
  • Menghindari aktivitas membaca dan menulis.

Gejala yang dapat dikenali saat remaja atau dewasa:

  • Kesulitan membaca.
  • Lamban dalam menyelesaikan tugas yang melibatkan baca tulis.
  • Lebih memilih menghindari aktivitas membaca.
  • Kesulitan dalam mengeja.
  • Sering salah dalam mengucapkan nama atau kata.
  • Kesulitan meringkas sebuah cerita.
  • Kesulitan dalam menghafal.
  • Kesulitan dalam mempelajari bahasa asing.
  • Kesulitan mengerjakan soal matematika.

Diagnosis dan pengobatan disleksia pada anak

Untuk menegakkan diagnosis disleksia pada anak, dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk diantaranya yakni:

  • Riwayat kesehatan serta perkembangan dan pendidikan anak.
  • Situasi dan kondisi di rumah.
  • Pengisian kuesioner dan tes untuk mengidentifikasi kemampuan membaca dan bahasa anak.
  • Pemeriksaan neurologi.
  • Tes psikologi.
  • Tes akademis yang akan dinilai oleh seorang pakar.

Disleksia adalah masalah seumur hidup alias tergolong penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Kendati demikian, deteksi dan evaluasi sedini mungkin terbukti dapat meningkatkan kemampuan anak yang tak hanya dalam dunia baca tulis namun semua aspek kehidupan. Dengan demikian, orang tualah yang memegang peranan kunci dalam menentukan keberhasilan anak disleksia kedepannya.

Umumnya terdapat tiga model strategi pembelajaran yang dapat diterapkan untuk anak disleksia, yakni sebagai berikut:

  • Metode Multisensori. Mendayagunakan kemampuan visual (penglihatan), auditori (pendengaran), kinestetik (gerakan) dan taktil (perabaan) pada anak.
  • Metode Fonik. Memanfaatkan kemampuan auditori dan visual anak dengan cara menamai huruf sesuai dengan bunyinya.
  • Metode Linguistik. Mengajarkan anak mengenal kata secara utuh dan menekankan pada kata-kata yang bermiripan, seperti ‘karton’ dan ‘kartun’.

Segera konsultasikan pada dokter bila mencurigai buah hati tercinta mengidap disleksia. Penanganan secepat mungkin menentukan kualitas hidupnya ke depan.

SUMBER
#